Si Pangeran Hujan itu…..
Sudah beberapa hari dia di sana terus di sana, di bawah pohon Akasia besar yang tumbuh di depan sekolahnya. Lebih tepatnya, mulai saat penghujan singgah. Dia menunggu. Menunggu di bawah langit gelap. Manakala teman-teman lainnya begegas menuju rumah untuk belindung, dia malah mematung di bawah Akasia tua itu. Sambil membaca buku yang berjudung “Lelaki Hujan”, atau sambil menikmati cakwe di tangan kanannya.
Dan…dia baru mulai bergerak, manakala rintik-rintik hujan mulai turun, manakala rintik yang kecil itu perlahan membesar dengan teratur. Di bawah hujan yang turun, dia baru melangkahkan kakinya, entah itu pulang ke rumah, atau ada tempat lain yang mengundang langkahnya. Entah mengapa, setiap hujan turun dia baru bergerak pergi. Seolah memang itu yang dia tunggu. Mungkin baginya menyakitkan, pulang dalam perjalanan panjang sendirian di bawah langit yang mendung. Atau dia butuh sekedar hawa sejuk untuk mendinginkan batok kepalanya. Entahlah, hanya dia yang paham alasannya.
Dia melangkah di tengah hujan tanpa ragu. Dia berjalan menikmati setiap tetas air yang membasahi tubuhnya. Dia menyusuri hujan tanpa rasa takut. Sambil tersenyum seolah ada bercak kenikmatan surga dalam hujan yang turun itu. Tidak ada derap cemas dalam langkahnya. Yang bisa kau dengar sayup-sayup adalah siulannya. Atau suaranya yang tampak khidmat melantunkan sesuatu. Ya, bisa selalu kau lihat. Sambil berjalan, di bawah guyuran hujan, dia tampak asyik beraklamasi. Suaranya mungkin tersamar oleh gemuruh hujan, tapi kau bisa melihat gerak tangan, tubuh, dan kakinya, kau dapat melihat ekspresi mukanya, kau dapat melihat dari sorot matanya. Dia sedang tampil bak mementaskan puisi di panggung jalanan, di mana sorot lampu yang menyinarinya adalah air hujan di sepanjang jalan ini. Dan ketika sampai di ruas ujung jalan, tempat dia melanjutkan pulang dengan moda lain, para penonton disekitarnya serentak memberikan aplaus tanpa henti tanda kekaguman mereka, berupa tatapan mata penuh keanehan dan gelengan kepala tanda penyimpangan prilaku yang dia lakukan.
Aku tidak mengenal namanya dan akupun tidak pernah bertegur sapa dengannya, sekalipun tidak. Mungkin bagi orang lain dia terlihat sangat aneh, bukan tapi terlihat gila! Tetapi bagitu tidak. Butuh keberanian untuk melewati hujan dengan sedemikian tenang. Kemampuan untuk menikmati dan berekspresi di bawah hujan adalah anugrah yang tidak semua orang beruntung memilikinya. Aku tidak mengenalnya. Dan akupun tidak tahu namanya, tetapi aku memanggilnya sebagai.……pangeran hujan.
1 komentar:
ne, bukannya harusnya 'the prologue'?
epilogue bukannya buat penutup? :p
Posting Komentar