Matahari Satu
07.02 WIB
Ah, tidak ada waktu lagi! Dia harus terus berlari. Dia sudah terlambat, sangat terlambat! Nafasnya sudah tersenggal-senggal, dan semakin tersenggal-senggal, tetapi dia tidak boleh berhenti. Hari ini adalah hari yang penting. Hari pertamanya dalam satu fase baru di hidupnya. Tetapi semuanya kacau. Dia malah terlambat satu jam dari waktu pertemuan yang sudah ditentukan. Celakanya, dia masih juga belum sampai!
Dia berbelok cepat di tikungan ke kiri dan segera memasuki gang sempit yang cukup panjang. Beberapa meter di depan terlihat cahaya di ujung gang tersebut. Dan tiba-tiba, ahh! Dia tersendung batu, persis begitu keluar dari gang sempit! Tersungkurlah dia menghantam coran semen yang tidak cukup rapi dibuat. Sambil meringis dia berupaya untuk bangkit. Ada nyeri yang dia rasa di sekitar siku tangan dan kakinya, yang cuma diberi sedikit tiuap dan usapan. Sambil terengan-engah dia menatap ke arah barat laut dari tempat dia terjatuh. Sudah terlihat, bisiknya dalam hati. Tinggal beberapa ratus meter lagi aku sampai. Dia terdiam sejenak. Sedetik kemudian dia bangkit berlari. Api semangat didadanya berkobar makin besar tanda motivasinya begitu meluap untuk segera sampai ke tempat tujuan.
Dia berlari dengan lebih cepat. Tempat tujuannya semakin jelas terlihat. Ada tampak kerumunan orang-orang dengan pakaian yang seragam. Ya, tak salah lagi, pasti itu tempatnya, yakinnya dalam hati. Tetapi, pernah mendengar pameo, ‘jika sial sekali akan sial terus-menerus hari itu’? Mungkin hal itu ada benarnya, atau mungkin saja itu hanya manifestasi pikiran yang negatif sehinggal kerikil sekecil apapun tetap terasa bagai duri. Dan itu yang terjadi padanya. Kerikil itu tepat ada didepannya, di depan kawan kita yang sedang berlari tergesa-gesa. Ketika beberapa detik lagi dia sampai ke tempat pertemuan, ada beberapa kerikil yang seolah menunggu untuk menghadangnya atau hanya sekedar keisengan nasib untuk menguji tekad seseorang. Maksudnya betul-betul batu kerikil, bukan sekedar pengandaian. Lalu tanpa tandeng aling-aling, dia melintas dengan kecepatan tinggi, menerjang kerikil-kerikil di depannya, laksana pangeran yang bernafsu menyelamatkan putri impiannya. Lalu tiba-tiba, dia kehilangan keseimbangan! Tubuhnya condong ke arah belakang karena terpeleset batu-batu kecil tadi, seolah ada tangan-tangan gaib yang hendak menariknya jatuh. Yah, seperti pada saat terpeleset kelereng yang bergeletakan di lantai. Dengan susah payah, dia berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya ke arah depan agar tidak terjatuh memanfaatkan bakat reflex. Tetapi saat berusaha mengembalikan keseimbangan dengan memberikan gaya tambahan ke arah depan tubuhnya, dia malah mendapati kaki – lagi-lagi – berpijak pada kerikil-kerikil. Akibatnya, pijakan yang diberikan kakinya untuk menyeimbangkan diri malah menghasilkan daya dorong yang cukup besar ke udara, dan kerikil-kerikil itu membantu memperparah efek lontaran yang dihasilkan dari pijakan kakinya. Dan hasilnya,…… BRUUGHH!!!! Dia terlempar beberapa meter ke depan, melewati selokan, lalu masuk ke tanah lapang, dan langsung berakhir persis ke tempat pertemuan yang hendak dicapainya. Dia harus berterima kasih pada kerikil-kerikil tadi karena membantuknya beberapa detik sampai lebih cepat. Yah, walau dengan cara yang tidak biasa.
Semua mata langsung menatap ke dirinya. Ada riak-riak kaget yang tak tersembunyi dari barisan orang-orang yang berpakaian serba putih dengan benda aneh di dada mereka. Tak terkecuali juga beberapa orang dengan seragam berwarna kuning yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Mereka semua pasti terkejut karena tiba-tiba melihat ada orang yang terbang dan tersungkur di hadapan mereka. Superman kesiangan yang terbang dan terjatuh tadi meringis kesakitan, sambil memegangi sekujur tubuhnya, tetapi otaknya kemudian memberikan respons untuk mengeyampingkan sakit yang dirasakan, mana kala matanya menangkap ada dua bayangan yang mendekatinya. Dia pun melongok ke atas untuk melihat si empu dari bayangan itu. Ada dua orang yang mengenakan jaket berwarna kuning dengan wajah angker dan tidak bersahabat menghampirinya.
“Kamu ini sudah datang telat, bikin gaduh lagi. Kamu tahu enggak sekarang jam berapa!!” bentak satu di antara mereka. Dia tampak mengamati wajahnya, hmm tampaknya usianya si pembentak tidak jauh berbeda dengannya.
“Cepat berdiri dan masuk barisan telat, sana!!!!” orang kembali membentak.
“Ah, i..iya kak….aduh…duh….” jawabnya gagap sambil meringis kesakitan.
Melihat kondisinya yang tidak cukup baik, orang berjaket kuning yang satu lagi berkata.
“Masih bisa berdiri kan? Cepat bersihkan baju kamu, dan masuk ke barisan kelompok yang telat. Nanti saya panggilkan seksi medis. Cepat, acara inisiasi kita harusnya sudah dimulai.”
Inisiasi.Dia datang tergesa-gesa untuk menghadiri acara inisiasi di tempat belajarnya yang baru.
Ya, hari ini adalah hari pertamanya menjadi mahasiswa, hari pertamanya dia datang ke kampus dan mengikuti inisiasi. Ya, betul. Pengeran hujan yang sering sekali kulihat waktu dia pulang sekolah sekarang dia telah menjadi mahasiswa, menjadi salah satu agent of chance, menjadi iron stock kebanggaan bangsa.
Di tanah lapang yang sepertinya dipakai sebagai lapangan sepakbola itu nampak riuh. Ada barisan orang-orang yang berpakaian putih dan mengenakan tanda aneh di dada mereka yang mereka disebut name tag, berteriak-teriak menyanyikan lagu-lagu sambil diiringi dengan gaya-gaya yang aneh. Jika ada anak TK atau SD yang melintas di situ, dijamin mereka akan tertawa terbahak-bahak, merujuk pada sangat aneh dan…..konyol gerakan yang dipergayakan oleh kumpulan orang berpakaian putih tersebut.
Tidak jauh dari situ ada lagi barisan orang berpakaian putih dengan name tag anehnya, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Mereka tidak berteriak-teriak menyanyikan lagu yang sama seperti kelompok sebelumnya dengan gaya yang aneh dan konyol pula tentunya. Mereka hanya diam dan berbaris dengan pose yang tidak kalah aneh. Mereka berdiri agak membungkuk, sambil merendahkan lutut mereka membentuk sudut sekitar 90-100 derajat. Dengan posisi seperti itu, tubuh akan mempercepat penghasilan asam laktat, terutama di sekitar punggung, pinggang, dan lutut yang kemudian akan menghasilkan rasa pegal yang luar biasa.
Yah, kelompok yang berpose aneh itu tidak lain adalah orang-orang yang ‘terpidana’ karena melakukan dosa. Mereka melakukan kesalahan yang merupakan prilaku budaya dalam masyarakat mereka, yaitu terlambat. Belum apa-apa, di hari pertama mereka, di hari yang menjadi debut mereka mengenakan atribut status baru, mereka malah sudah membuat kesalahan. Kesalahan yang seolah sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat mereka.
Tetapi biarlah, biarkan pegal yang mereka alami menjadi alat instrospeksi yang baik bagaimana calon pemimpin menghargai waktunya. Biarkan asam laktat menunjukan kepada mereka kesusahan yang selalu muncul akibat orang jenius tidak mampu mengendalikan waktu. Semoga saja mereka tidak melakukan kesalahan yang sama ketika mereka benar-benar memimpin kelak.
Dan di antara para pendosa itu, ada satu orang yang nampak terbebas dari hukuman. Dia yang tadi terbang dan tersungkur, yang biasa kupanggil pangeran hujan. Huh, dia harus berterima kasih lagi pada kerikil-kerikil tadi karena dengan luka-luka yang dia dapat, dia mendapat kompensasi untuk tidak melakukan pose tadi. Sebagai gantinya, dia harus rela beberapa perban dan besut menginap di tubuhnya beberapa hari.
Inisiasi.
Ini sangat berbeda dengan inisiatif. Apalagi dengan inisial. Inisiasi adalah mekanisme, bahkan dia bisa menjelma menjadi sistem. Inisiasi adalah salah satu produk budaya yang jenius dari masyarakat untuk membantu para anggota barunya menyesuaikan diri dengan atribut baru yang didapat dan mewariskan semua amanah budaya. Inisiasi dapat menciptakan tali pengikat antar anggota baru dengan para seniornya membuat mereka menjadi lebih akrab, dia juga dapat memberikan jembatan penghubung ke dunia luar untuk memperoleh hal-hal yang dapat meringankan hidup mereka.
Namun di sisi lain, inisiasi bisa menjadi sebuah mimpi buruk. Dia dapat mewariskan kebencian yang tidak berujung pada anggota-anggota barunya. Menebarkan kebencian dan mengkotak-kotakan manusia. Menciptakan insititusi tamak yang melarang mobilitas ke atas. Adakalanya tali ikatan yang diciptakan terlalu kuat sehingga, sepintar dan sehebat apapun orang-orang didalamnya, tetap akan menjadi katak dalam tempurung karena mereka tidak sanggup mempercayai adanya keragaman dan kehilangan rasio kerendahan hati.
Tetapi, mau wajah baik muncul ataupun tampang sadis yang terlihat, bagi beberapa komunitas, inisiasi ini sudah menjadi kewajiban yang setara dengan kewajiban sholat bagi orang Islam, kebaktian bagi kaum Nasrani, sembahyang bagi umat Hindu dan Buddha (mungkin ini agak berlebihan). Dan salah satunya ada di tempat ini. Di tempat pangeran hujanku memulai statusnya sebagai orang super bodoh. Lewat ini, dia akan belajar bagaiman menghormati para seniornya, bagaimana memperlakukan rekan sejawatnya, bagaimana cara bernafas, bagaimana cara merangkak, dan bagaimana cara untuk hidup di tempat baru ini.
Kumpulan orang berpakaian putih dengan tanda aneh yang mereka sebut name tag tadi bergerak ke satu tempat. Tidak hanya satu kerumunan, tetapi ada beberapa lagi kerumunan serupa dari tempat-tempat berlainan yang juga menuju ke tempat yang sama. Jika kau melihat dari atas, dari langit, mungkin akan menimbulkan kekaguman. Mereka pasti ibarat semut-semut yang sedang berbaris rapi jali menuju lubang gelap mereka. Tampak konfigurasi manusia yang memanjakan mata bukan? Tetapi bagiku, mereka tampak seperti barisan pelayat berbaju putih. Mungkin yang mereka takziyahi adalah jiwa ‘anak sekolah’ mereka, karena mereka kini menjadi ‘anak sekolah tinggi’. Apapun itu, semoga bukan kebaikan hati mereka yang mereka layati.
Berduyun-duyun pasukan serba putih itu menuju ke sebuah bangunan aula besar. Jumlah mereka sangat banyak. Mungkin sekitar 50an kompi. Aula besar itu sanggup menampung mereka semua. Perutnya bahkan masih menyisihkan ruang yang cukup untuk 50 kompi lagi. Tapi, tidak semua kompi masuk ke perut aula yang beratap seperti Masjid Kudus itu. Ada beberapa yang mendapat kehormatan dan kesempatan menikmati asupan vitamin D yang melimpah di bawah terik bintang matahari. Mereka adalah para calon pemimpin yang tergelincir di ujian pertama: kedisiplinan waktu. Apapun alasannya, keterlambatan adalah dosa besar bagi para senior yang mengenakan jaket kuning. Walaupun tidak ada kepastian apakah memang orang-orang yang berjaket kuning itu 100% semuanya tidak ada yang telat.
Dia juga ada di situ, bersama orang-orang yang gagal melampaui waktu. Di lengan kirinya terbalut pita hitam. Beberapa orang juga memakainya, tetapi tidak semua. Pita itu bukan perlambang duka cita, tetapi tanda bagi mereka yang sakit. Sepertinya akan ada diskriminasi positif antara yang fit dengan yang sakit. Dan dia lagi-lagi harus berterima kasih kepada kerikil-kerikil yang membuat dia terbang tadi, sebelum membentur ke bumi, yang membuatnya berhak mendapatkan pita hitam.
Mereka mulai didekati satu persatu. Disebutkan nama, dibentak, ditanya kesalahannya, dibentak, kemudian menjawab, dan dibentak lagi. Dia berdiri di barisan terdepan. 6 orang dari ujung kanan. Sudah tiga orang yang dieksekusi. Sekarang orang keempat. Dia merasa dadanya berdegup lebih cepat dan ada getaran-getaran aneh dikedua telapak tangannya. Berikutnya orang ke lima. Dia bahkan bisa mendengar dengan jelas teriakan-teriakan yang diarahkan pada orang di sampingnya. Suara-suara berintonasi tinggi itu memekakan telinganya dan membuat kedua kakinya sedikit gemetaran. Dan berikutnya giliran dia….MOHAMED AL-MAMFAGHY!!!! Deg! Namanya disebut! Hoo, jadi itu namanya. Mohamed Al-Mamfaghy…nama yang aneh…
“Itu nama kamu!!!!”
“Iya kak!” jawabnya sambil terkejut.
“Kamu tahu kesalahan kamu?”
“Tahu, Kak!” masih dengan terkejut.
“Apa?!!!!”
“Karena datang telat, Kak.” Perlahan mulai hilang rasa kegetnya.
“ Kenapa kamu telat?!!!”
“ Karena….”
“ALASAN!!!” belum sempat menjawab, tiba-tiba sudah disanggah.
“Saya enggak mau dengar alasan kamu! Sekarang kamu push up 15 kali!! Cepat!!!”
Tanpa menjawab lagi, segera dia mengambil ancang-ancang untuk push up, sebuah hukuman klasik untuk kedisiplinan. Huhu, rupanya ada yang tidak berubah semenjak SD ya. Dia melakukan hukuman itu. Tanpa menggerutu, karena tidak tampak aura itu di air mukanya. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia merasa ini hukuman yang pantas, atau dia berpikir lebih baik tidak usah membantah kalau tidak ingin tambah runyam. Apapun yang dia pikirkan, semoga pegal yang menggerayangi lengannya atau lantai kotor yang kadang-kadang tercium, menjadi memori berharga baginya dan bagi yang lain agar ingat selalu kesempatan-kesempatan yang terbuang akibat manusia yang pandai gagal menunjukan kedisiplinannya.
Ketika pelajaran tentang kedisiplinan selesai diberikan, baru dia diperbolehkan masuk ke dalam aula besar itu. Sambil perlahan-lahan masuk ke tempat yang tampak gelap dari luar itu, dia mulai berpikir ada apa sebenarnya di dalam sana? Apa yang mereka lakukan? Di luar tadi dia mendengar sayup-sayup orang yang berteriak, kemudian bunyi gemuruh suara ratusan orang juga beberapa kali terdengar, lalu adakalanya sunyi berkuasa selama beberapa lama, dan setelahnya bisa terdengar riuh rendah suara tawa atau tepuk tangan.
Kakinya sudah memasuki ke dalam perut aula besar itu. Luas sekali tempatnya dan juga gelap. Tidak ada pencahayaan yang dihidupkan. Sinar matahari dari ventilasi dan jendelapun tampaknya dipaksa alpa di ruang itu. Retina matanya sedang kerja keras beradaptasi melihat ditempat yang gelap, oleh karena itu matanya belum bisa bekerja maksimal menangkap pemandangan disekelilingnya. Tetapi samar-samar dia dapat melihat ratusan orang sedang duduk di bawah, dari dari kejauhan tampak beberapa orang berdiri di atas altar. Hampir tidak ada cahaya. Yang ada hanya kelap-kelip lampu mic dan sound system yang sedang bekerja menyebarkan suara ke seantero ruangan.
Kemudian langkahnya terhenti lantaran orang didepannya juga berhenti. Dan di situ, kelompok terakhir yang memasuki aula ini diperintahkan untuk duduk di lantai yang dingin. Sambil duduk, dia mencuri kesempatan memandangi sekelilingnya. Sudah sekitar 70% matanya bisa bekerja. Tampaknya memang tidak ada aktifitas selain berdiam duduk dari ratusan orang peserta inisiasi. Kemudian baru terdengar suara dari depan.
“Istirahatnya cukup!” teriak suara itu.
“Mulai dari sekarang, saya ingin kalian berpikir, dan akan selalu berpikir sebagai maha bodoh, bukan lagi sebagai anak sekolah…..bla..bla..bla…”
Memangnya ada yang salah dengan cara berpikir anak sekolah, gerutunya dalam hati. Asal tahu saja, justru cara berpikir anak sekolah yang membuat kita jadi mahabodoh tahu!, lanjutnya memelihara kegondokan dalam hati. Dia memang tetap mendengarkan dengan seksama suara itu, tetapi otak dan hatinya tidak berhenti mendebat ucapan-ucapan suara tadi. Bisa dilihat dari bentuk alisnya yang mengkerut. Menurutnya, ucapan itu terlalu tendensius, terlalu mendewakan status mahabodoh. Mahabodoh kan cuma sebutan untuk orang yang beruntung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Isi dari ‘mahasiswa’ pun tidak lebih dari manusia biasa, yang bisa melakukan riset dengan teman-teman disekitarnya atau pada catatan tersembunyi pada waktu ujian, yang bisa melakukan gerak cekatan menghindar ketika petugas tiket bus atau kereta menghampirinya, atau meletakan sampah tidak pada tempatnya agar orang lain dapat memiliki kesempatan untuk membuangnya tepat tempat atau melakukan suatu aktifitas yang menurut mitos dapat mengurangi jumlah sum-sum tempurung lutut..
Otaknya masih asyik mendebat suara-suara itu. Tetapi sebentar lagi, akan ada suara yang muncul yang membelalakan matanya, menerobos ke pintu utama hatinya, dan mempengaruhinya. Ya, menusuk ke dalam dan meracuni otaknya selama bertahun-tahun ke depan